Tampilkan postingan dengan label Suci's Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suci's Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Suci's Life Story [Cerbung] Part 4

Aku kini telah beranjak dewasa. Memasuki masa SMA. Masa terindah, tersulit, termanis, dan ter yang lainnya lagi. Semester pertama masuk SMA. Sama sekali tidak ada orang yang aku kenal disini. Tidak ada teman masa SD maupun teman masa SMP. Mereka sama sekali tidak ada kabar lagi. Seperti hilang ditelan zaman. Sepertinya aku benar-benar sendiri disini. Semuanya asing bagiku. 

Masa orientasi siswa. Disini aku mulai berkenalan dengan teman baru. Arni namanya. Bermula dari dia datang terlambat dan harus duduk di sebelahku. Kemudian dia dihukum sama kakak-kakak karena bawa sisir. Maklumlah waktu itu rambut panjangnya digerai dan dia tidak berjilbab. Untunglah aku yang sejak kecil memang sudah berjilbab jadi tidak pernah berpikir untuk membawa sisir kemana-mana. Arni dihukum untuk menyisir rambutnya sambil berputar berkeliling kelas 10 kali. Pasti malu banget. Aku tahu bagaimana perasaan dia. Akhirnya dari kejadian itu aku semakin dekat dengan Arni.

Kami selalu bersama kemanapun kami pergi. Ke kantin, ke perpustakaan, bahkan ke kamar kecil sekalipun. Kami sering cerita-cerita, dari cerita-cerita yang jelas sampai cerita yang tidak jelas, bertukar pikiran, informasi, dan bekerja sama dalam hal apapun. Kecuali dalam ujian. Satu hal yang sangat aku kecewakan dari dia adalah dia kadang suka curang dalam ujian. Bukan hanya malaikat kecil (red: contekan) yang dia bawa tapi tidak tanggung-tanggung, buku pelajaran yang dia bawa. Benar-benar gawat. Aku sebagai temannya sudah berusaha untuk mengingatkannya. Tapi dia sadar kalau habis diingatkan. Setelah itu lupa lagi. Hingga aku memutuskan untuk tidak ikut campur masalah dia dengan ujiannya dan masalah dia dengan Tuhannya itu. 

Hari terus berlalu. Hingga akhinya tidak hanya Arni yang berteman dekat denganku. Termasuk Danu, Bowo, dan Bara.


Apa yang akan terjadi selanjutnya??? Nantikan.. >>>>>>

Sabtu, 13 Desember 2014

Suci's Life Story [Cerbung] Part 3

Fix. Resmi. Aku (Suci) masuk Junior High School.
Pilih sekolah yang dekat dari rumah. Alasannya biar mudah aksesnya. Karna masih harus bolak-balik RS. Teman masih satu kelas sama Fina. Semakin dekat sama dia dan sekarang sudah benar-benar hilang kontak sama best friend masa elementary school. Semua tinggal kenangan. Bukan berarti benci atau menjadi musuh. Tapi memang sudah jarang bisa ketemu lagi karena beda sekolah. Teman-teman di kelas ini pun tak kalah asyiknya sama teman-teman sebelumnya.

Memulai hari baru dengan semangat dan harapan yang baru. Masalah pelajaran sama sekali tidak ada masalah. Juara kelas. Pasti, harus dan wajib. Walaupun di tingkat ini aku harus berusaha dengan keras untuk menjadi the best di kelas. Karena kebetulan aku masuk di kelas terbaik di tingkat ini dan satu-satunya anak yang sama sekali belum bisa aku kalahkan adalah Riza. Anak paling jenius dari semua kelas di tingkat ini. TIDAK BISA JADI YANG PERTAMA, JADI YANG KEDUA PUN TIDAK MASALAH. Itu yang selalu aku tanamkan dalam diriku. Karena aku tidak mungkin memaksakan apa yang aku sendiri tidak mampu. Resmi. Di Junior High School aku bukan menjadi yang pertama lagi. Tidak masalah buatku. Karena banyak sisi lain yang akan lebih indah dari itu. Apakah itu cinta??? Ohh.. tentu bukan. Bukan tentang itu. Tapi tentang pengalaman mengikuti olimpiade. Iya. Olimpiade matematika. The best experience walaupun tidak menjadi pemenang. 

Hari demi hari berjalan dengan lancarnya. Selancar ring road di jogja. Sekolah OK. Ngaji Yes. Menjadi lebih akrab sama dokter-dokter itu. Sudah seperti saudara sendiri. Masuk sekolah ini aku sudah mulai dibelikan HP sama bapakku. Ini HP pertama di dusunku. Bapak yang hebat. Dengan alat ini aku bisa ngobrol sama dokter-dokter itu tanpa harus bertatap muka. Bebas mau tanya tentang apa saja sama dokter-dokter itu. Mudah. Hingga tiba saatnya kenaikan kelas. Masuk kelas VIII. 

Kebiasaan pingsan sejak kelas VII ketika upacara itu sepertinya sudah menjadi langgananku. Aku mulai lemah di tingkat ini. Tidak seperti ketika masih di SD dulu. Aku menjadi lebih sering ke UKS. UKS menjadi kamar pribadiku waktu di sekolah. Salah satu pengalaman menyedihkan, lucu, dan menyesalkan adalah ketika aku sudah mulai merasa tidak enak badan dari rumah, aku sekekolah membawa HP. Padahal sekolah sama sekali tidak memperbolehkan siswanya membawa HP ke sekolah dan yang paling menyesalkan lagi adalah aku salah satu siswa yang mendapat beasiswa di sekolah ini. Saat aku sedang istirahat di UKS aku ditemani Tiya. Aku istirahat sambil memainkan HPku bersama Tiya dan itu diketahui oleh guru BK. Apa yang terjadi selanjutnya?? Dimarahi. *Sucibodobangetsich.?? Iya. "Maafkan aku Ibu. Aku tidak akan mengulanginya lagi". Untungnya beasiswa itu tidak dicabut. Alhamdulillah.

Salah satu ekstrakurikuler yang aku ikuti saat ini adalah Qiro'ah. Asyik. Seru. Menyenangkan. Jujur. Kalau boleh memilih aku ingin sekali ikut bela diri, tae kwon do, atau apalah yang sejenis dengan itu. Tapi itu sama sekali tidak direkomendasikan oleh dokterku. Sangat menyedihkan. Akhirnya aku jalani apa yang aku bisa lakukan.

Setahun sudah aku menduduki kelas VIII ini. Tiba saatnya ujian kenaikan kelas. 6 Mei 2006 jam 06 lebih berberapa menit gempa mengguncang jogja dan ujian dihentikan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Rumah-rumah hancur, banyak keluarga yang kehilangan harta benda dan nyawa. Saat itu aku sedang rebutan mandi sama Tiana adikku. Kami memang sudah bangun sejak subuh tetapi kami memang mementingkan malas-malasan di tempat tidur dari pada buru-buru ke kamar mandi dan siap-siap berangkat sekolah. Saat sampai di kamar mandi terasa guncangan itu semakin kuat dan semakin kuat. Hingga tidak tahu lagi harus berpegangan dengan apa. Karena guncangan itu benar-benar membuat kami tersungkur dan bangunan kamar mandi itu hancur lebur rata dengan tanah. Akhirnya kami berdua sebisa mungkin lari ke bawah dan segera mungkin lari keluar menemui mama dan bapak yang sudah lebih dulu keluar rumah. 

Guncangan itu berhenti. Walaupun masih sempat terasa guncangan-guncangan kecil. Kami mandi dengan air seadanya. Buru-buru dan makan pun juga terasa tidak enak. Tidak lama kemudian ada kabar kalau rumah nenek hancur. Tante, om, dan anaknya yang serumah dengan nenek dan kakek sedang ke pantai sejak ba'da subuh. Dalam rangka cari angin segar karena anaknya sedang batuk. Tak pakai ba bi bu lagi mama dan bapak menjemput nenek. Baru di tengah perjalanan tiba-tiba puluhan orang bersepeda motor menghadang perjalanan. Mereka ngebut buru-buru dan tidak pakai aturan perjalanan sambil teriak tsunami. Lucunya lagi orang-orang itu berasal dari utara dan bergerak ke selatan mencari dataran lebih tinggi dari pada tempat mereka. Tak pakai pikir panjang mama dan bapak tidak jadi jemput nenek kakek dan malah ikut arak-arakan tersebut. Aku dan Tiana tinggal di rumah. Bengong lihat arak-arakan seperti kampanye yang berisik dan panjang lewat depan rumah. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.

Tak lama kemudian mama dan bapak kembali pulang. Mungkin mereka ingat dengan anak-anaknya yang sedang dirumah. Kemudian kami berempat segera lari ke pegunungan dekat rumah kami. Tidak jadi ikut arak-arakan itu. Beberapa lama kemudian tiba-tiba HP drop dan mati. Tidak bisa menghubungi om dan tante yang sedang di pantai. Setelah itu baru ingat kalau nenek dan kakek belum jadi dijemput. Akhirnya ortuku jemput mereka. Mereka khawatir sama om dan tante. Jangan-jangan mereka sudah terkena tsunami itu.

Sekitar jam 8, tante dan om sampai di rumahku. Mereka baik-baik saja dan sama sekali tidak tahu kalau ada gempa dan tidak tahu juga kalau ada tsunami. Mereka benar-benar kaget. Mereka yang dipantai saja tidak kenapa-kenapa, kok yang di dataran tinggi jauh dari pantai sudah heboh tsunami. Mungkin pantai utara yang meluap, bukan pantai selatan. Tetapi di jogja ada gunung merapi. Air tsunami pantai utara bisa melompat melewati gunung merapi?? Orang-orang yang ada di dataran tinggi itu tertawa.

Sampai tengah hari banyak orang yang masih berkumpul di tempat itu. Yang naik pohon sudah mulai berani turun. Anak-anak yang nangis ketakutan ditinggal orang tuanya sudah berhenti. Orang-orang yang telah menelantarkan saudara yang luka-luka terkena reruntuhan sudah mulai ingat dan segera memberikan pertolongan pertamanya.

Sore harinya kami mulai membuat tenda di tempat itu. Tenda berukuran 2 x 3 diisi oleh 4 anggota keluarga. Seru asyik. Dingin-dingin bersama. Makan mie instan satu bungkus untuk bertiga. Yang orang tua cuma bisa ngiler. Malam harinya hujan turun. Syukur alhamdulillah saja.

Hari berikutnya sudah ada bantuan mulai turun. Nasi aking instan dan selimut mulai didistribusikan. Setidaknya kami sudah tidak kedinginan dan kelaparan lagi. Hari-hari berikutnya bantuan mulai merata dan kehidupan hampir kembali normal walaupun harus terseok-seok memulai dari nol lagi.

Seiring berjalannya waktu, jogja mulai bangkit dari keterpurukan itu dan ujian kenaikan kelas kembali di gelar. Ujiannya masih di luar kelas. Lesehan. Setiap ada gempa kecil lagi kami yang sedang mengikuti ujian berlari menuju tengah lapangan. Dan itu tidak hanya selaki dua kali. Tapi berkali-kali. Tapi itu semua tidak menyurutkan langkah kami untuk tetap mengikuti ujian dan tidak menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja sama. Say No to Cheating..!!

Liburan kenaikan kelas sedang berjalan. Saat-saat ini sangat dimanfaatkan oleh dokter-dokterku untuk kembali melaksanakan operasi selanjutnya. Kali ini prosesnya sangat lama dan membosankan. Karena rumah sakit juga banyak yang rusak dan sedang dalam proses renovasi jadi pelayanan sedikit terganggu sehingga banyak menunggu.

Operasi baru bisa dilakukan ketika semester awal kelas IX. Resmi. Di kelas ini aku jarang masuk sekolah. Aku dapat materi dari teman-teman yang telah berbaik hati padaku. Walaupun begitu nilai Try Out UN ku pun tidak kalah sama mereka yang tiap hari berangkat. Malah aku masih tetap mendapatkan urutan juara yang lebih tinggi dari mereka. Akhirnya aku lulus dari sekolah ini dengan nilai yang tidak mengecewakan.


See you in the next post wae lah.. Part 4. Senior High School...  >>>>>>>>>>>>>>>>>

Selasa, 09 Desember 2014

Suci's Life Story [Cerbung] Part 2

Mulai saat itu, aku sekolah sambil berobat. Seminggu dua kali aku harus bolak balik ke rumah sakit. Cek ini itu. Suntik ini itu. Ribet, capek, dan pengalaman yang wajib disyukuri.

Di sekolah, aku masih tetap bisa berprestasi. Tak pernah ketinggalan pelajaran. Selain belajar di sekolah dan kesibukan sama pengobatanku, aku juga tetap bisa ikut TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di sekolah setiap sore hari. Ohh ya.. dikelas 3 ini aku dapat teman baru. Fina dan Ike namanya. Dia anak tinggal kelas bersama 2 orang teman perempuannya Rias dan Asti. Tetapi Rias dan Asti agak sedikit nakal. Dia suka minta uang jajan teman-teman termasuk aku. Suka nyontek dan suka minta dikerjain tugasnya. Tapi sebenarnya orangnya baik sih, dan Diaz sekarang lebih dekat sama mereka dari pada sama aku. Iya. Sejak Dion tidak ada bersama kami.

Naik kelas 4 aku sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar, dan prestasiku pun sama sekali tidak turun. Dikelas 4 ini ada anak baru di kelas. Dewa namanya. Sedikit lebih ganteng sih dari pada Dion dulu. Maklumlah dia anak orang borjuis. Diaz, Rias dan Asti pun sering cari-cari perhatian sama si Dewa itu. Hiihhh..

Dikelas 4 aku mulai pindah tempat ngaji. Di masjid dekat rumah. Ustadznya masih muda-muda dan ganteng sich (upsss J). Aku tergolong santri yang cerdas disini. Cepat menghafal dan bandel. Hehehe..

Dan di kelas ini juga dokter memutuskan untuk menjalankan operasi untuk mengangkat penyakitku. Sedih rasanya. Takut. Takut mati. Takut kalau aku sudah tidak bisa kembali melihat matahari lagi. Tapi untungnya ditunda setahun kedepan. Artinya akau masih ada kesempatan untuk mempersiapkan semuanya.

Hari-hari di sekolah dan di tempatku ngaji berjalan seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Teman-teman masih bersikap biasa-biasa saja. Walaupun untuk orang yang belum pernah bertemu denganku mungkin melihatku seperti manusia yang datang dari planet lain. Atau malah mereka mengira kau zombie atau alien yang sengaja diturunkan dari UFO demi misi kejahatan, makanya mereka pada takut. L

Tapi semuanya aku anggap biasa-biasa saja. Santai. Slow. Tiba saatnya dimana aku harus menjalani operasi di kelas 5. Semuanya serasa berjalan begitu cepat. Tak terasa aku telah berada di ruang serba hijau dan dinginnya setengah lingkaran. Banyak manusia-manusia berwarna hijau itu mendekatiku. Seakan segera menyerangku dari berbagai sisi. Aku ketakutan. Ribuan jarum dan peralatan yang sama sekali aku tak tahu siap melalapku hidup-hidup. Aku berontak. Hingga tiga botol obat bius itu pun tak mampu mengalahkanku. Aku masih mampu untuk berontak dan lari dari tempat itu sekencang mungkin. Tapi itu tak mungkin. Walaupun keyakikan dan kekuatanku untuk tetap bertahan hidup masing sangat kuat tapi tetap saja aku lemah kalau dokter menambah dosis obat bius itu. Dosis untuk 2x orang dewasa masuk ke dalam tubuhku. Dan kini aku tak tahu apa yang akan dan telah terjadi.

Satu hari kemudian aku tersadar. Aku tak tahu apa-apa dan tak bisa memikirkan apa-apa kecuali aku kebelet pipis.. Hihihihi.. dan mamalah yang aku sebut pertama dalam keadaan seperti itu. Perih dan nyeri semakin terasa hari-demi hari. Tak banyak yang bisa akau lakukan kecuali menahannya dan terus terdiam. Keadaan pasca operasi terus membaik. Walaupun operasi itu bisa dianggap gagal, tapi seminggu kemudian aku boleh pulang. Dan aku ingin segera kembali ke sekolah. Bermain bersama teman-teman. Aku merindukan teman-teman, aku merindukan mengerjakan PR, kangen ngaji sama teman-teman.

Seminggu kemudian aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Sekolah, berobat, dan ngaji. Bermain sedikit saja. Ohh ya.. Setiap pagi aku selalu baca majalah anak BOBO selama bolak-balik rumah sakit. Jadi gak pernah merasa suntuk. J

Kenaikan Kelas. Prestasiku turun. Aku peringkat 5. Dari pra operasi sampa pasca operasi hampir satu bulan aku tidak masuk sekolah. Tapi tidak terlalu buruk lah.

Sekarang aku dekat sama Fina dan Ike. Diaz and The gank itu msih tetap mintain uang jajan juga sih, tapi itu semua masih keadaan wajar. Tidak terlalu anarkis.

Kelas 6 ini aku fokus untuk sekolah. Fokus belajar untuk menghadapi ujian nasional walaupun sesekali aku masih ke rumah sakit untuk check up.

Akhirnya aku lulus SD dengan nilai yang lumayan tinggi. Aku bangga dengan diriku sendiri. Aku berjanji kepada diriku sendiri akan selalu membanggakan kedua orang tuaku. Membahagiakannya semaksimal mungkin semampu aku.




Selasa, 02 Desember 2014

Suci’s Life Story [Cerbung] Part 1

Senin Wage. 17 Syawal 1412 atau 20 April 1992. Dari keluarga yang istimewa, lahirlah seorang putri cantik. Suci. Nama indah yang diberikan orang tuaku. Memberikan kebahagiaan bagi keluarga besarku. Cucu kesayangan dari dua pasang kakek nenek petani sukses waktu itu. Mereka telah mengukir kehidupan dengan seni yang luar biasa indahnya. Mereka hidup dengan gaya yang sederhana dan elegan tapi rasa bahagia selalu mengalir di setiap detiknya.

Waktu terus berputar. Orang tuaku telah merawatku dengan cinta. Kasih sayang tak henti-hentinya mereka curahkan untuk anak pertamanya. Tak sedikitpun mereka melewatkan pertumbuhan dan perkembangan si buah hati tercinta. Suci kecil kini telah berumur 3 tahun. Di tahun ini keluarga istimewa itu kembali mendapatkan anugrah terindah dari Tuhannya. Tiana. Perempuan mungil yang akan menghiasi kehidupan keluarga kecil bahagia itu. Yang akan ikut mengukir keindahan di setiap sisi kehidupan Suci.

Di umurku yang 5 tahun, kakek (ayah mama) meninggal dunia. Satu hal yang aku sesalkan sampai saat ini adalah keinginan terakhir kakek untuk menciumku di saat-saat terakhirnya tidak kesampaian. Karena aku yang sibuk lari-larian ke sana kemari, senang sekali karena di rumah kakek banyak saudara-saudara yang datang. Aku sama sekali tidak tahu apa itu “kematian”.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, mamaku masuk rumah sakit. Waktu itu aku sama sekali tidak tahu. Mengapa kedua nenekku, tante-tante, dan budhe-budhe rame-rame di rumah? Dan mengapa mamaku tidak ada di rumah? Mama kemana? Fix. Akhirnya aku tahu. Mama masuk rumah sakit karena sakit usus buntu. Begitu kata budhe. Apa reaksiku waktu itu? Menangis?? Tidak lah. Suci anak yang kuat, Suci anak yang kuat, dan Suci anak yang tabah. Palingan juga selama seminggu mama di rumah sakit aku tidak bisa tidur.

Seminggu kemudian mama pulang dari rumah sakit. Hari-hari selanjutnya bapak lebih protectiv sama mama. Kehidupan mulai berjalan normal dan waktu terus berjalan sesuai ketentuanNYA.

Aku, Suci. Tetap menjadi anak kesayangan orang tuaku dan cucu kesayangan kakek nenekku. Bahkan melebihi adikku. Setiap nenek pulang dari pasar selalu dibelikan oleh-oleh dan diberikan uang jajan. Hidupku sungguh sangat bahagia waktu itu.

Suci kecil telah masuk TK. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar jemput oleh bapak. Hari-hari kuhabiskan dengan bermain dan belajar. Permainan favorit waktu TK adalah ayunan dan perosotan. TK adalah masa dimana aku tidak tahu apa itu yang namanya belajar. Yang aku mau tahu hanya bahagianya bermain. Cita-cita yang aku gantungkan sejak TK adalah menjadi seorang guru. Seperti Ibu guru yang mengajarku di TK itu.

Aku suka bermain dengan bestfriendku. Diaz dan Dion. Dion adalah cowok paling cool di kelasku waktu itu dan Diaz adalah anak temannya mamaku. Rumah mereka berdua tidak terlalu jauh dari rumahku.

Waktu bermain, sedikit belajar, dan banyak jajan di TK itu telah selesai. Aku telah dinyatakan lulus dari Taman Kanak-kanak favorit di desa itu. Aku kembali mengukir perjalanan hidupku dengan masuk ke sekolah dasar. Lagi-lagi aku satu kelas dengan duo bestfriendku itu. Badung-badung bareng, gila-gilaan bareng, dan “keren”nya lagi adalah bolos-bolos bareng.

Mulai memakai seragam putih merah, dengan dasi merah, dan topi merah kebanggaan selalu dipakai kemanapun. Saat di kelas sekalipun hingga warnanya menjadi lusuh. Waktu belajar di bagi menjadi 2 bagian. Masuk pagi jam 7 dan masuk siang jam 10. Tidak tahu mengapa harus dibuat seperti itu.

Heboh. Garing. Lucu. Gila. Itu ketika sudah minta izin berangkat ke sekolah sebelum jam 7 pagi, tiga sekawan sudah berkumpul di jalan menuju sekolah, dan seingat kami bertiga adalah jadwal masuk siang. Jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Jalan-jalan di sekitar pegunungan yang ada di desa kami. Jalan itu sedikit bertebing dengan jalan yang agak becek. Dengan pemandangan yang menakjubkan, kami bertiga terus menyusuri jalan pegunungan yang terjal itu. Sesekali Dion menggendong salah satu diantara kami dan menggandeng satu yang lain. Tetapi lebih sering aku yang digendongnya karena Diaz sedikit lebih gendut dari pada aku. J

Setelah jalan dirasa sudah mulai panas, kami fokuskan untuk jalan lebih cepat ke sekolah. Sampai di sekolah kami langsung menuju kelas dan anak-anak yang dikelas telah selesai berdoa mau pulang. Kami bertiga menunggu di luar karena perkiraan kami itu adalah kelas pagi yang baru mau pulang. Setelah kelas kosong, kami bertiga masuk ke kelas dan ternyata hari itu tidak ada kelas siang. Semua anak sudah masuk kelas pagi dan hanya kami bertiga yang tidak masuk. Begitu kata Bu Guru yang menjadi guru kelas kami. Sedih, takut, kecewa, menyesal, dan senang. Itu yang kami rasakan saat itu. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan singgah sebentar ke rumah Juna teman sekelas kami untuk menanyakan pelajaran dan tugas hari itu. Setelah dari rumah Juna kami ke rumah Diaz untuk mengantarnya pulang dan bermain sebentar disitu. Setelah lelah bermain, Dion mengantarku pulang. Walaupun rumah Dion dan Diaz bersebelahan dan rumahku tidak searah dengan rumah mereka, Dion tetap mengantarku pulang.

Hari-hari selanjutnya kami tetap ceria, belajar, dan bermain, serta lebih memperhatikan jadwal masuk kelas. Tiba saatnya ujian catur wulan. Kami bertiga selalu mendapatkan peringkat 3 besar di kelas. Peringkat 1 kelas sudah seperti wajib kami dapatkan dan menjadi layaknya piala bergilir untuk kami. Begitu seterusnya hingga kami di kelas 3.

Di kelas 3 Dion pindah ke Kalimantan. Ayahnya dipindahtugaskan kesana. Sedih, kecewa, terharu. Sampai akhirnya kami bertiga untuk tidak saling melupakan dan percaya suatu saat nanti pasti Allah SWT akan mempertemukan kita kembali.


Suci kecil kini tumbuh menjadi perempuan cerdas dan berbudi luhur. Dan seketika keadaan berubah 180 derajat. Aku divonis terkena kanker tulang stadium rendah oleh salah satu dokter yang praktik di rumah sakit pusat di Jogja.